• Home
  • Posts RSS
  • Comments RSS
  • Edit
Blue Orange Green Pink Purple

aryokuncoro

me:aryokuncoro

inspiring video from uncle steve jobs



courtesy: stanford unversity via youtube

stay hungry, stay foolish (steve jobs)


semoga terinspirasi,
aryokuncoro
Read More 0 kesan | oleh aryokuncoro | link ke posting ini

sikepan ageng

RT @gm_gm: Aristokrat Surakarta tiru pakaian resepsi Belanda (tuxedo):
hanya ekornya dipotong utk sisipkan keris kehormatan. Keren tapi
panas! #jas

tweet dari Gunawan Mohammad ini seolah menjawab pertanyaan saya selama
ini mengenai pakaian tradisional Solo.
sebelumnya kita bahas dulu tentang 2 jenis pakaian tradisional pria
solo yang masuk dalam konteks ini yaitu Beskap dan Sikepan Ageng.
perbedaan yang paling terlihat adalah jika di sikepan ageng ada
daleman warna putih yang terlihat, persis seperti jas namun tanpa dasi.
lalu saya tanya ke ibu saya* tentang perbedaan sikepan ageng dan
beskap. dari hasil diskusi saya dan ibu, kurang lebih sesuai dengan
tweet gm_gm td, pakaian sikepan ageng itulah yang dimaksud sebagai
pakaian aristokrat. ini karena pada jaman dulu sikepan ageng ini hanya
dipakai kaum bangsawan.

kembali kepada pertanyaan yang tercetus di benak saya semenjak lama: "kalo memang sikepan ageng itu pakaian tradisional yang asli
solo, kenapa jika digunakan tuh panas banget". seolah melenceng dari
pakem bahwa yang tradisional tradisional (mungkin bisa juga dikatakan vernakular)itu selalu merespon kondisi lokal, dalam hal ini iklim.
jika merespon kondisi iklim Indonesia yang tropis lembab tentunya pakaian akan berkarakteristik cepat menyerap keringat lalu melepaskannya ke udara. namun ketika mengenakan sikepan ageng ataupun beskap, keringat tidak akan berhenti mengalir karena panas. karakteristik pakaian ini berlawanan dengan sifat yang saya sebutkan tadi.

jawaban dari ketidaksesuaian ini ternyata karena sikepan ageng merupakan pakaian hasil adaptasi dari pakaian tuksedo yang dikenakan oleh bangsawan eropa. oleh karena itu ada beberapa kesamaan antara tuksedo dan sikepan ageng di antaranya adalah kesamaan bahan. perbedaannya adalah pada sikepan ageng bagian ekor tuksedo ditiadakan untuk tempat meletakkan keris.


nah dari sinilah asal muasal kenapa sikepan ageng itu terlihat tidak begitu tradisional. karena ada pengaruh barat yang berkembang di kalangan bangsawan. kini, sikepan ageng dan beskap bebas dikenakan oleh siapapun dengan bahan yang persis sama dengan bahan jas. jadi, bisa saya simpullan bahwa sikepan ageng merupakan budaya solo
hasil adaptasi budaya eropa.

-aryokuncoro-
*ibu saya itu seorang solo yang cukup paham tentang busana jawa karena
nenek saya punya toko baju pengantin jawa+kain batik. ;P numpang iklan

Read More 1 Comment | oleh aryokuncoro | link ke posting ini

From Holland Lit Up the World



You would not believe your eyes
If ten million fireflies
Lit up the world as I fell asleep

…

(Fireflies- by Owl City)

Saat mendengarkan lagu Owl City-Fireflies di atas, saya jadi membayangkan bagaimana seandainya kalau lampu-lampu yang menerangi rumah saya ini diganti dengan kunang-kunang (fireflies), mungkin perlu 10 juta ekor kunang-kunang seperti yang disebutkan di lagu tersebut ya. Tapi tahukah anda bahwa saat ini sudah ada teknologi lampu yang bentuknya menyerupai kunang-kunang? Bentuknya bulat, ukurannya kecil seukuran kunang-kunang, bisa bercahaya ,dan yang paling penting adalah hemat energi. Lampu tersebut dinamakan lampu LED (Light Emitting Diode). Lampu ini merupakan hasil inovasi teknologi dalam bidang pencahayaan. Pengembangan lampu LED ini salah satunya dilakukan oleh perusahaan Belanda yang memimpin pasar global dalam dunia pencahayaan. Sumbangan inovasi yang dilakukan tentunya memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan modern saat ini.

Kondisi kehidupan modern saat ini seolah tidak lagi mengenal batas waktu, aktivitas manusia sudah tidak dibatasi oleh kehadiran matahari sebagai sumber cahaya. Hal ini dimungkinkan karena telah ditemukan sebuah benda transparan berukuran segenggaman tangan yang dinamakan lampu. Dengan hadirnya lampu, kegiatan manusia bisa berlangsung 24 jam baik yang ada di dalam ruangan maupun di luar ruangan. Aplikasi lampu ini sangat beragam mulai dari bangunan, ruang kota, sampai untuk penerangan kendaraan. Lampu inilah yang mengubah dunia kita dari keadaan habis gelap terbitlah lampu, ups..terbitlah terang maksud saya.

Dengan semakin tingginya intensitas kegiatan yang membutuhkan pencahayaan, maka energy yang digunakan juga semakin lama semakin tinggi. Jumlah energy yang digunakan untuk pencahayaan adalah sekitar 38% dari total energy yang digunakan pada bangunan (http://www.need.org). Jumlah ini memang masih kalah dibandingkan dengan jumlah energy yang digunakan untuk penghawaan buatan (AC). Namun, angka 38% ini merupakan jumlah yang cukup signifikan tentunya. Apalagi di tengah isu penghematan energy yang sedang hangat-hangatnya berkembang di lingkungan masyarakat global. Salah satu kegiatan yang beberapa waktu lalu dilakukan sebagai upaya penghematan energy adalah Earth Hour dimana kita diminta untuk mematikan lampu dan alat elektronik selama 1 jam saja. Bayangkan dengan hanya satu jam mematikan alat elektronik saja kita bisa menghemat pemakaian energy yang cukup besar. Bayangkan lagi jika penghematan seperti ini kita lakukan bukan hanya satu jam, tapi setiap hari. Nampaknya mendadak dunia yang sekarang terang benderang ini akan seperti ke jaman batu.

Tapi tenang dulu karena kita bisa menghemat pemakaian energy pada sector pencahayaan dengan menggunakan lampu hemat energy. Lampu hemat energy yang sudah dikembangkan saat ini adalah lampu Compact Fluorescent Lamp (CFL) yang sudah umum digunakan dan dikenal dengan sebutan lampu hemat energy. Jika menggunakan lampu jenis CFL ini kita dapat menghemat energy sebesar 80% daripada ketika kita menggunakan lampu pijar biasa. Sebagai perbandingan, jika kita menggunakan lampu pijar 100 W, maka untuk mendapatkan penerangan yang setara dengan menggunakan CFL kita cukup menggunakan lampu CFL 20 W. Tapi tunggu dulu, yang namanya inovasi tentunya tidak akan pernah berhenti bukan? Saat ini sudah ada teknologi lampu yang jauh lebih hemat daripada lampu CFL tersebut , yaitu lampu LED.

Lampu LED ini merupakan inovasi terkini dalam dunia pencahayaan. Lampudengan teknologi ini memiliki kelebihan yaitu sangat hemat energy sampai 80% dari pemakaian energy lampu CFL, aman bagi lingkungan, dan tahan lama. Dengan pemakaian energy yang sangat hemat ini maka teknologi ini sangat sesuai diterapkan pada kondisi saat ini dimana sumber energy semakin terbatas. Selain itu, kesadaran global yang mulai terpanggil untuk melakukan langkah-langkah penghematan energy juga patut didukung dengan penggunaan lampu hemat energy ini.

Lampu LED bisa diaplikasikan ke dalam berbagai bidang mulai dari interior bangunan, eksterior bangunan, ruang kota, lampu jalan, hingga kendaraan bermotor. Karakteristik LED yang berukuran kecil ini mudah diaplikasikan ke dalam bentuk apa saja.

Bagaimana kondisi pendidikan di Belanda yang dapat mendukung kemajuan inovasi teknologi ini? Tentunya pemerintah Belanda sangat mendorong perkembangan pendidikan apalagi yang mendukung industri flagship yang membawa nama Belanda di kancah perdagangan global. Seperti misalnya yang terdapat pada TU Delft yang menawarkan program studi Electrical Engineering baik untuk tingkat Bachelor maupun Master. Nampaknya menuntut ilmu di salah satu kampus terbaik di dunia ini merupakan cita-cita banyak orang. Bagaimana tidak, kita bisa belajar langsung di epicentrum pendidikan teknologi dunia. Selain itu, tentunya pendidikan disana ditunjang dengan kurikulum yang inovatif pula untuk menyesuaikan dengan perkembangan dunia teknologi yang sangat pesat.

Setelah membaca uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa LED merupakan salah satu inovasi yang dapat berperan cukup penting dalam usaha global mengurangi pemakaian energy. Inovasi dan pengembangan LED ini juga merupakan salah satu sumbangan negeri kincir angin untuk kemajuan dunia. Pada masa yang akan datang diharapkan penggunaan lampu LED sebagai pencahayaan buatan ini dapat berperan dalam pelestarian lingkungan dan keberlanjutan lingkungan hidup.

You would not believe your eyes

If ten million fireflies LED Lamps

Lit up the world as I fell asleep

...

So,Would you believe?


aryokuncoro

sumber:

http://www.colorkinetics.com

http://www.philips.com

http://buildingsdatabook.eren.doe.gov

http://en.wikipedia.org


Read More 5 kesan | oleh aryokuncoro | link ke posting ini
Older Posts

me:aryokuncoro

  • me:about
      saya, lagi belajar buat menerapkan ilmu arsitektur di kehidupan nyata sambil belajar menata kota dan membingkainya melalui fotografi..
  • me:ninggalkan pesan


    me:nyambung

    • adin
    • alfarina
    • chen
    • cune
    • fathia
    • ichi
    • ophy
    • pandu
    • upi
    • vika

    me:langgani

    Posts
    Atom
    Posts
    All Comments
    Atom
    All Comments

    me:labeli

    • arsitektur (1)
    • desain (2)
    • foto (2)
    • jalanjalan (3)
    • kompetiblog (1)
    • kota (1)
    • makan (1)
    • me:life (1)
    • studi di belanda (1)

    me:ngarsip

    me:blog feed

    • Light Breath
      Balada Roker : Pasangan Edan - Jika kalian pikir pelecehan itu hanya terhadap wanita maka Anda salah besar. Pun jika kalian pikir pelecehan dilakukan oleh pria terhadap pria lg maka Anda...
      2 weeks ago
    • Mayday, My Day!
      Lotere yang (hampir) dimenangkan. - Hai, Dalam hidup, kesedihan adalah hal yang biasa seperti juga kesenangan. Tapi bagaimana jika kesenangan bekerja sama dengan semesta untuk menciptakan ke...
      4 months ago
    • METAMORPHY
      - Dear readers, just click on the picture to follow the other story of mine. Regards, I will move to Cologne soon.
      7 months ago
    • catetan kenang-kenangan
      - terima kasih, Prito Rayesha Trihutomo :')
      2 years ago
  • Search






    • Home
    • Posts RSS
    • Comments RSS
    • Edit

    © Copyright ..:: aryokuncoro | aryo hendrawan wisnu kuncoro ::... All rights reserved.
    Designed by FTL Wordpress Themes | Bloggerized by FalconHive.com
    brought to you by Smashing Magazine

    Back to Top