hanya ekornya dipotong utk sisipkan keris kehormatan. Keren tapi
panas! #jas
tweet dari Gunawan Mohammad ini seolah menjawab pertanyaan saya selama
ini mengenai pakaian tradisional Solo.
sebelumnya kita bahas dulu tentang 2 jenis pakaian tradisional pria
solo yang masuk dalam konteks ini yaitu Beskap dan Sikepan Ageng.
perbedaan yang paling terlihat adalah jika di sikepan ageng ada
daleman warna putih yang terlihat, persis seperti jas namun tanpa dasi.
lalu saya tanya ke ibu saya* tentang perbedaan sikepan ageng dan
beskap. dari hasil diskusi saya dan ibu, kurang lebih sesuai dengan
tweet gm_gm td, pakaian sikepan ageng itulah yang dimaksud sebagai
pakaian aristokrat. ini karena pada jaman dulu sikepan ageng ini hanya
dipakai kaum bangsawan.
kembali kepada pertanyaan yang tercetus di benak saya semenjak lama: "kalo memang sikepan ageng itu pakaian tradisional yang asli
solo, kenapa jika digunakan tuh panas banget". seolah melenceng dari
pakem bahwa yang tradisional tradisional (mungkin bisa juga dikatakan vernakular)itu selalu merespon kondisi lokal, dalam hal ini iklim.
jika merespon kondisi iklim Indonesia yang tropis lembab tentunya pakaian akan berkarakteristik cepat menyerap keringat lalu melepaskannya ke udara. namun ketika mengenakan sikepan ageng ataupun beskap, keringat tidak akan berhenti mengalir karena panas. karakteristik pakaian ini berlawanan dengan sifat yang saya sebutkan tadi.
jawaban dari ketidaksesuaian ini ternyata karena sikepan ageng merupakan pakaian hasil adaptasi dari pakaian tuksedo yang dikenakan oleh bangsawan eropa. oleh karena itu ada beberapa kesamaan antara tuksedo dan sikepan ageng di antaranya adalah kesamaan bahan. perbedaannya adalah pada sikepan ageng bagian ekor tuksedo ditiadakan untuk tempat meletakkan keris.
nah dari sinilah asal muasal kenapa sikepan ageng itu terlihat tidak begitu tradisional. karena ada pengaruh barat yang berkembang di kalangan bangsawan. kini, sikepan ageng dan beskap bebas dikenakan oleh siapapun dengan bahan yang persis sama dengan bahan jas. jadi, bisa saya simpullan bahwa sikepan ageng merupakan budaya solo
hasil adaptasi budaya eropa.
-aryokuncoro-
*ibu saya itu seorang solo yang cukup paham tentang busana jawa karena
nenek saya punya toko baju pengantin jawa+kain batik. ;P numpang iklan

ooo... gitu, adaptasi tuxedo..
tanpa dasi ya untungnya... hehe